Senin, 18 Mei 2015

Awalnya, aku sedang tidak memiliki pekerjaan apa-apa. Aku dilanda suatu musibah kebosanan karena tak ada yang bisa dilakukan dan lelah untuk menunggu. Akhirnya sesuatu menarik perhatianku dan membuat aku dapat melakukan sesuatu. Yaitu memperhatikan seorang necis di seberang sana yang sepertinya sedang berjalan ke arah halte ini. Pakainnya rapih. Kemeja putih polos dan berjas hitam. Dasinya biru. Rambutnya berkilauan, disisir menjadi terbelah dua. Belahan yang mengarah ke kanan lebih besar daripada yang satunya lagi. Mungkin gambaran tersebut...

Posted on Senin, Mei 18, 2015 by Unknown

No comments

Minggu, 10 Mei 2015

Saat waktu berjalan mundur, Hikmat pun mengikutinya. Ia menapaki jejak demi jejak kakinya untuk mencari batu akik milik pacarnya yang terjatuh. Ia menyesali kenapa dia bisa begitu ceroboh, padahal batu tersebut merupakan batu pemberian ayah Hikmat yang telah meninggal dunia. Rani, pacarnya Hikmat, memang disayangi ayah Hikmat karena ketulusannya dalam mencintai Hikmat, anak semata wayangnya. Rani selalu mengerti kondisi Hikmat, bagaimana pun keadaannya. Suatu waktu, “Mat, tadi aku ketemu sama Ayah di pasar. Dia menitipkan ini buatmu.” Rani...

Posted on Minggu, Mei 10, 2015 by Unknown

No comments

Minggu, 03 Mei 2015

Asep kembali membuat dirinya menangis, seperti biasa, saat mengupas bawang. Ditemani adik perempuannya, Irma, ia tak pernah merasa sedih dengan kondisi keluarganya yang cukup memprihatinkan. Dalam hatinya Asep menangis. Ia pernah bilang pada dirinya sendiri bahwa ia lebih rapuh daripada tangkai-tangkai tanaman padi.  “Asep, mamah mana? Kok mamah tidak datang juga ke dapur,” sela adiknya pada lamunan Asep. “Asep tidak tahu, Irma. Coba Irma lihat, barangkali mamah sudah ada di kamar.” Asep kembali melanjutkan lamunannya. Tiba-tiba...

Posted on Minggu, Mei 03, 2015 by Unknown

No comments